Unisba Jadi Pusat Evakuasi, Wakil Rektor: Kami Hanya Menolong

Bandung, IDN Times - Ratusan massa yang menjadi korban kericuhan demonstrasi, berbondong-bondong dievakuasi ke kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Jalan Tamansari, Kota Bandung, Senin (30/9) malam.
Dari pantauan di lokasi, para korban mengalami luka ringan, sedang, hingga berat. Korban luka berat, yang jumlahnya tidak sedikit, telah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk pertolongan medis lebih serius.
1. Warek III sebut pihaknya hanya menolong

Wakil Rektor III Unisba, Asep Ramdani Hidayat, mengatakan universitasnya hanya melakukan kerja kemanusiaan. Menurutnya, menolong merupakan kewajiban dirinya sesama manusia.
"Apa yang dilakukan oleh kami hari ini, masih tetap seperti yang semula. Kami menolong orang yang sakit, memberikan kesempatan orang yang mau beristirahat tapi dengan tidak membawa fenomena apapun," ungkap Asep, saat ditemui di Unisba, Senin (30/9) malam.
Dirinya menampik jika ada tuduhan kepentingan lain selain menolong korban. Ia menegaskan, pihak kampus tidak memiliki instruksi apapun terhadap mahasiswanya dalam hal evakuasi korban kericuhan demonstrasi.
2. Aparat masuk kampus

Di tengah korban yang sedang dievakuasi, tiba-tiba datang segerombolan aparat berseragam loreng memasuki kampus. Sejumlah tentara menanyakan jumlah korban ke petugas medis di Unisba.
Aparat mengaku, kehadirannya ke kampus karena diminta oleh kelompok mahasiswa untuk menjenguk korban kericuhan. Menyoal hal tersebut, Asep memberi peringatan kepada mahasiswa yang berani berkoordinasi dengan aparat TNI.
"Jadi kapan-kapan, anda enggak boleh menarik aparat masuk kampus. Karena kampus harus steril," ujar Asep, memperingati mahasiswanya. Dia menambahkan, kehadiran sejumlah aparat tersebut hanya diizinkan sebatas untuk konfirmasi data korban.
3. Data korban masih belum final

Sementara, kata Asep, Unisba belum memiliki data pasti jumlah korban. Sampai pukul 22.00 WIB, jumlah korban yang tercatat masih terus bertambah--sebagian dilarikan langsung ke rumah sakit.
"Nanti kami akan berikan data itu. Sekarang kan datanya sedang diproses di rumah sakit mana, dikirim ke mana, kami akan identifikasi. Karena datanya juga belum direkap, jadi kami belum bisa menyebutkan finalnya data itu," terangnya.
4. Aksi unjuk rasa adalah hak intelektual

Disinggung soal mahasiswanya yang berada di barisan massa aksi, Asep mengatakan Unisba tidak memiliki hak untuk melarang mahasiswanya melakukan aksi protes. "Jadi sebenarnya, itu adalah hak intelektual mereka (mahasiswaI dalam mengkritisi situasi sosial. Bukan ranah saya untuk mengoreksi, apalagi melarang," ucapnya.












