Bandung, IDN Times - Kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung, Oded M Danial-Yana Mulayana, dinilai masih belum bisa menjawab problema kemacetan yang selama ini menjadi salah satu masalah krusial di Kota Kembang. Dengan pertumbuhan masyarakat yang bekerja di pusat kota dan tidak optimalnya akses transportasi umum membuat kendaraan pribadi kian banyak. Hal ini kemudian berdampak pada semakin banyaknya titik kemacetan di Bandung.
Berdasarkan survei yang dilakukan Indonesian Politics Reserch and Consultaning (IPRC) kepada 440 dengan berbagai kategori, kemacetan menjadi problema paling tinggi yang harus diselesaikan dengan capaian 28 persen. Setelah sektor ini, warga juga keluhkan penanganan harga kebutuhan pokok dan sampah dengan masing-masing nilai 13,3 persen dan 7,6 persen.
Direktur IPRC, Firman Manan, mengatakan sebagai kota besar, masalah kemacetan di Bandung memang menjadi problema yang akan melekat. Problem ini tidak hanya terjadi di Bandung tapi juga kota-kota besar lainnya.
Kemacetan di Kota Bandung bahkan tidak mampu terselesaikan oleh kepemimpinan sebelumnya, salah satunya kepemimpinan Ridwan Kamil yang kini telah menjadi Gubernur Jawa Barat. "Dan sampai hari ini (satu tahun Oded-Yana) memang belum bisa diselesaikan," ujar Firman dalam sebuah diskusi, Senin (30/9).
