Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir di Kabupaten Bandung
Bandung, IDN Times - Banjir yang membuat banyak kecamatan di Kabupaten Bandung dan telah menimbulkan korban jiwa membuat pemerintah daerah menetapkan kondisi ini menjadi tanggap darurat.
Bupati Kabupaten Bandung Dadang M Naser mengatakan, sebelumnya status bencana banjir di daerah ini adalah siaga. Namun, melihat kondisi yang semakin parah maka statusnya dijadikan tanggap darurat.
"Status tanggap darurat, hari ini saya tandatangan. Tadi juga sudah rapat kilat bersama BPBD akan membuka dapur umum," ujarnya kepada wartawan di Soreang, Jumat (8/3).
1. Dapur umum telah disiapkan

Dadang menuturkan, pihaknya akan berkoodinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyiapkan dapur umum di wilayah Baleendah dan Dayehkolot. Selain itu ada juga mobil yang disiapkan untuk mengantarkan makanan kepada warga yang tidak mengungsi dan bertahan di rumah mereka masing-masing.
"Ternyata ada yang tidak mengungsi (warga korban banjir) dan ada kesulitan air bersih dan masak," kata Dadang.
Terkait dengan wacana membuat kolam retensi di Andir, Baleendah, dirinya menambahkan, pihaknya mendukung rencana tersebut. Ia pun meminta agar danau retensi Cienteung yang belum selesai dibangun agar dituntaskan.
Menyangkut keinginan relokasi para korban banjir, ia mengungkapkan apakah wacana tersebut bisa terealisasi. "Relokasi seperti di Cienteung ingin dibeli, memungkinkan gak. Itu yang harus dirasionalisasi," katanya.
2. Status darurat banjir hingga 15 Maret
Dadang mengatakan, peningkatan status ini akan ditetapkan selaam tujuh hari. Artinya dari Jumat (8/3) daerah Kabupaten Bandung menjadi tanggap darurat banjir hingga Kamis (15/3).
"Untuk sementara tujuh hari dulu. Nanti kita akan evaluasi perkembangannya seperti apa," ujarnya,.
Dadang pun mengatakan hingga saat ini Pemda Kabupaten Bandung telah menerima bantuan berupa barang maupun tenaga dari lembaga lain.
3. Banjir berlangsung cukup lama
Salah satu warga yang terdampak banjir di daerah Cijagra, Bosongsoang, adalah Rosnawati. Ibu paruh baya ini menjadi salah satu warga yang harus menginap di tempat pengungsian dekat jalan raya. Rumah yang dia tempati kembali terkena banjir dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa.
"Segini nih," ujar Rosnawati sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah dada menceritakan banjir yang menimpanya, Kamis (7/3).
Dia yang saat ditemui sedang menjemur baju di bebaturan dekat kamp pengungsian menuturkan, banjir tadi malam cukup mendadak karena ketinggian air tiba-tiba meluap sekitar pukul 02.00 dini hari. Alhasil dia tak sempat membawa pakaian utuh untuk bekal di tempat pengungsian.
"Ini saja baju saya basah semua. Mau pulang ke rumah air masih tinggi, harus pakai perahu, tapi itu juga susah jalannya sempit," kata dia.
Rosnawati yang sudah tinggal di daerah ini selama puluhan tahun menuturkan, selama dia tinggal di daerah Cijagra yang notabene dekat dengan aliran Sungai Citarum, baru tahun ini saja dia merasakan banjir yang terus-menerus. Tahun-tahun sebelumnya banjir memang ada juga, tapi lama waktu banjir tidak lama walaupun itu musim penghujan.
"Kalau sekarang paling panas (cuaca cerah) sehari, abis itu hujan lagi. Hujan dikit aja langsung banjir lagi," ungkapnya.
