Jauh sebelum mendapat penghargaan, ketertarikan Dobson kepada ilmu fisika sudah terlihat saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) saat itu, Dobson berhasil terpilih sebagai juara ke III festival teknologi sederhana di Sawangan tahun 2007.
"Awalnya, waktu itu ayah membuat panel surya yang terbuat dari semen, bisa jadi tempat pijakan, tempat parkir dan taman. Lalu saya berfikir kenapa enggak bikin yang lebih simpel dengan material GRC, diatasnya pasang pipa waterpass disambung pipa, dilem, kan itu jadi panel, ditambah pipa-pipa besar yang jadi pemanasnya. Nah saya bikin untuk lomba itu," kata Dobson ditemui di rumahnya," ungkap Dobson aaat ditemui di rumahnya, Kamis (28/11).
Kreatifitas Dobson tidak berhenti. Dia berusaha menciptakan alat pemanas yang lebih praktis. Berbekal ilmu yang ditimbanya saat kuliah di Universitas Parahyangan (Unpar), alumni SMAN 3 Bandung ini kemudian berfikir membuat alat pemanas air bertenaga matahari dari bahan-bahan yang mudah didapat seperti pipa PVC dan polikarbonat agar biaya pembuatannya tidak terlalu mahal.
"Bahan-bahan ini bisa menyimpan panas matahari yang dimanfaatkan untuk memanaskan air yang disimpan dalam sebuah tempat berbentuk termos jumbo," jelasnya.
Setelah alat itu dirangkai dan diujicobakan, hasilnya mampu berfungsi seperti alat pemanas air lainnya yang beredar di pasaran dengan harga yang lebih mahal. Dobson menamai alat ciptaannya EcoSol Sunheat. Alat itu diklaim lebih bisa menghemat pemakaian listrik dan gas yang biasa digunakan sebagai pemanas air.
"Pengguna pemanas air tenaga surya di Indonesia masih terbatas di perumahan atau komplek-komplek besar dan mereka juga sebenarnya belum peduli dengan penghematan. Walaupun sebenarnya metode kerja yang dipasaran tidak efisien, karena masih menggunakan pemanas listrik," paparnya.
"EcoSol Sunheat memanfaatkan tenaga matahari yang melimpah di alam terbuka. Apalagi sebagai negara tropis yang kaya akan cahaya matahari, Indonesia mestinya bisa memanfaatkan energi alam ini," lanjut Dobson.