https://free.messianicbible.com
Masyarakat Israel sepertinya tak menyangka bahwa setelah menjadi Perdana Menteri Israel pada 1992, Yitzak Rabin menjadi sosok yang berbeda. Pria yang menjalani hampir seluruh hidupnya sebagai tentara dan pernah berperang melawan Arab dalam peristiwa “Perang Enam Hari” ini tiba-tiba menjadi sosok pembawa kedamaian bagi berbagai konflik politik Israel.
Salah satu aksi perdamaian yang dilakukan Rabin ialah mau berkompromi dengan orang-orang Palestina, terutama yang tinggal di wilayah yang diduduki Israel sejak 1967. Tak berhenti sampai di sana, Rabin juga memberikan kekuasaan bagi Palestina untuk memerintah wilayah Tepi Barat dan Gaza. Akibatnya, banyak masyarakat Israel yang geram terutama setelah lahirnya berbagai perjanjian antara Rabin dan Pemimpin Palestina, Yasser Arafat.
Mahasiswa Universitas Barhan berusia 25 tahun bernama Yigal Amir adalah salah satu orang yang membenci berbagai keputusan Rabin. Selain aktif mengikuti demonstrasi untuk menentang sikap Rabin, Amir juga nekad karena mengakhiri hidup Rabin melalui tangannya.
Pada malam hari tanggal 4 November 1995, sebuah demonstran balasan dengan tema “Damai Ya, Kekerasan Tidak” digelar di Kings of Israel Square, Tel Aviv. Rabin dan istrinya, Leh, tiba di alun-alun itu dan memberi reaksi bagi sekitar 100 ribu pendukungnya di sana.
Di sisi lain, Amir mengendap-endap sambil menunggu Rabin di sekitar tempat mobil sang Perdana Menteri terparkir. Ketika pidatonya selesai, Rabin meninggalkan panggung dan dikawal oleh lima pengawalnya. Saat Rabin hendak masuk ke dalam mobilnya, Amir menghampiri dan menembakkan tiga peluru ke arah punggungnya.
Rabin kemudian dibawa ke rumah sakit dengan jarak yang tak terlalu jauh. Meski demikian, beberapa jam setelah peristiwa, pihak rumah sakit mengumumkan bahwa Perdana Menteri Israel itu telah meninggal dunia.
Hingga saat ini, kematian Rabin masih menjadi kontroversi. Beberapa pihak berpendapat bahwa Amir tidak membunuh sang Perdana Menteri karena tidak menggunakan peluru asli.